Beranda / Opini Reflektif / Menguji relevansi OKP ditengah ancaman krisis

Menguji relevansi OKP ditengah ancaman krisis

Ilustrasi editorial menguji relevansi OKP di tengah ancaman krisis global dan kesulitan rakyat
ilustrasi gambar oleh tim redaksi narafakta

narafakta-Di tengah gemuruh pusaran geopolitik dunia saat ini, kita mungkin merasa jauh dari pusat konflik. Namun kenyataannya, dampaknya tetap sampai kepada kita.

Perang di Timur tengah , hancurnya kilang minyak di Riyadh, hingga potensi ditutupnya Selat Hormuz, semuanya bukan sekadar berita luar negeri. Efeknya bisa terasa hingga ke dapur rumah seseorang di ujung Merauke, Implikasinya tidak main-main.Dengan ketahanan BBM nasional yang disebut hanya sekitar 20 hari, kita sebenarnya sedang hidup di atas situasi yang sangat rapuh. Jika rantai pasok global terganggu, maka skenario terburuk bukan lagi sekadar kemungkinan.

Ketika BBM naik, sembako ikut naik,ketika sembako naik, daya beli turun. Lalu ketika itu terjadi di tengah UMR yang masih rendah , jadilah ia sebuah kombinasi yang amat perih bagi siapa pun yang sedang menanggung hidup.

Di titik inilah penulis teringat pada begitu banyak organisasi yang selama ini menggaungkan cita-cita besar rakyat sejahtera. Pertanyaannya sederhana, apa yang akan mereka lakukan? Di sinilah sebenarnya tujuan organisasi diuji. Bukan pada rapat yang panjang, bukan pada spanduk besar, melainkan pada kemampuan mengubah ide dan gagasan menjadi program nyata tanpa pamrih.

Baca Juga : Tragedi NTT, Ade khairul : “Negara Gagal Melindungi Hak Pendidikan Kaum Marhaen”

Mari sejenak bermain dalam dunia imajiner,bayangkan sebuah keadaan pasca perang, internet tak lagi tersedia, listrik tak lagi menyala. Dalam kondisi seperti itu, beras mungkin akan sama berharganya dengan emas, lantas apakah kita masih bisa mengandalkan retorika manis dan tampilan yang rapi dalam framing media?

Atau selama ini kita hanya terbiasa berlaga peduli? Memperjuangkan rakyat padahal yang sebenarnya dikejar hanya pesona simbol dan bendera. Pertanyaan terbesarnya sederhana,bisakah kita menghadirkan efek nyata bagi rakyat? Misalnya dengan menghadirkan lumbung pangan berbasis kerakyatan, memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki organisasi, atau belajar dari Jepang, sebuah negara yang pernah dibumihanguskan oleh perang, tetapi memilih memprioritaskan tenaga pendidik demi memastikan generasi penerusnya mampu membangun kembali negerinya.

Perlu diingat, keadaan saat ini bukan seperti momentum pemilu, bukan masa ketika uang berhamburan dan kepentingan politik saling bertemu. Situasi hari ini lebih mendekati satu hal yang sangat mendasar, yakni bertahan hidup.

Karena itu, mungkin sudah waktunya gen organisatoris berlaga seperti pejabat dengan sambutan memukau dan peci yang mengilap kemudian mulai menghadirkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi keberlangsungan hidup bangsa.

 

Penulis : Alfurqon

Editor : Tim Redaksi