PONTIANAK – Kabar memilukan menyelimuti dunia pendidikan Indonesia. Seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mengakhiri hidupnya akibat depresi karena tidak mampu membeli buku sekolah. Menanggapi tragedi kemanusiaan tersebut, Ade Khairul Arya Putra, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat FTIK IAIN Pontianak, angkat bicara dengan nada keras dan tegas.
Ironi Indonesia Emas 2045 di Atas Nyawa Kaum Marhaen
Ade Khairul memberikan argumentasi tegas bahwa peristiwa ini bukan sekadar kasus bunuh diri biasa, melainkan tamparan keras bagi wajah pendidikan Indonesia. Ia menilai nyawa yang hilang tersebut adalah bukti nyata bahwa akses pendidikan masih menjadi barang mewah yang diskriminatif bagi kaum Marhaen.
“Ini adalah tragedi kemanusiaan yang sangat memuakkan. Di tengah riuhnya retorika pemerintah tentang ‘Indonesia Maju’ dan visi ‘Indonesia Emas 2045’, kita justru menyaksikan seorang anak harus meregang nyawa hanya karena beban ekonomi untuk membeli buku. Bagaimana mungkin kita bicara tentang generasi emas jika pondasi dasarnya saja yakni buku sekolah masih menjadi barang yang tak terbeli oleh rakyat kecil?” ujar Ade.
Sebagai kader yang bergelut di dunia pendidikan, yakni di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Ade menegaskan bahwa komersialisasi pendidikan masih menjadi hantu yang menakutkan. Menurutnya, Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi fatamorgana jika negara membiarkan biaya sarana belajar menjadi penghalang bagi anak bangsa untuk bermimpi.
Kegagalan Empati dalam Sistem Pendidikan
Ade menyoroti kontradiksi anggaran pendidikan 20% dari APBN yang tidak mampu menjangkau kebutuhan dasar siswa di pelosok. Ia menilai ketimpangan regional di NTT menjadi potret buram pembangunan manusia yang tidak merata.
“Sangat biadab jika di negeri yang kaya ini, seorang anak harus merasa lebih baik mati daripada menanggung malu karena tidak mampu membeli buku. Ini bukan sekadar kemiskinan harta, tapi kemiskinan empati dari sistem pendidikan yang lebih memuja administrasi dan materi daripada keberlangsungan hidup siswanya,” tegas Ade.
Ia menambahkan bahwa buku seharusnya menjadi jembatan ilmu dan alat pembebasan bagi kaum Marhaen untuk keluar dari jerat kemiskinan, bukan justru menjadi “tali gantungan” yang mengakhiri mimpi anak manusia.
Guncangan Dunia dari Tangis Rakyat Kecil
Menutup pernyataannya, Ade Khairul membangkitkan kembali semangat api perjuangan sang Proklamator, Bung Karno, sebagai peringatan bagi penguasa agar tidak abai pada penderitaan rakyat.
“Bung Karno pernah berteriak dengan lantang: ‘Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!’ Namun hari ini, dunia bukan guncang karena prestasi, melainkan guncang karena tangis kaum Marhaen yang kehilangan anaknya akibat ketidakadilan akses pendidikan,” ucap Ade.
Ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi total terhadap penyaluran bantuan seperti KIP agar tepat sasaran dan tidak terhambat birokrasi.
“Jangan sampai ada lagi anak-anak lain yang harus memilih antara nyawa atau pendidikan. Negara jangan hanya sibuk dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi dan imajinasi 2045, sementara di akar rumput, rakyatnya mati karena tidak mampu membeli alat tulis!” pungkasnya.






