Beranda / Pemuda / Kelaparan, apakah MBG Solusi?

Kelaparan, apakah MBG Solusi?

Kelaparan di Indonesia meski produksi beras nasional mengalami surplus.

Narafakta-Opini-“tidak ada yang lebih penting dari perut perut lapar” secara prinsip pidato Prabowo adalah bentuk pengakuan bahwa pangan merupakan unsur paling dasar dalam kehidupan manusia. Namun bagaimana bisa bicara tentang pembangunan, pertumbuhan ekonomi atau cita-cita politik jika negara saja masih kesulitan memenuhi kebutuhan pangan rakyat.

Bicara kelaparan di Indonesia bukan semata-mata persoalan ketiadaan makanan, melainkan persoalan akses, distribusi, kemiskinan, dan ketimpangan.Kondisi Indonesia berbeda dengan Somalia yang mengalami krisis pangan berat akibat kekeringan berkepanjangan yang menghancurkan hasil pertanian dan peternakan, sementara konflik juga memperburuk distribusi bantuan pangan negara mereka.

Kondisi Indonesia juga berbeda dengan Sudan yang menghadapi ancaman kelaparan akibat perang yang menghancurkan sistem pangan, membuat masyarakat kehilangan akses terhadap lahan, pasar, dan bantuan kemanusiaan. Indonesia memiliki cerita berbeda dengan negara-negara yang menghadapi kelaparan.

Indonesia adalah negara agraris dengan produksi beras yang besar. Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi tahun 2025 mencapai sekitar 60,21 juta ton Gabah Kering Giling, dengan produksi beras untuk konsumsi mencapai sekitar 34,69 juta ton.  Bahkan pemerintah menyebut terdapat surplus produksi beras dibanding kebutuhan konsumsi nasional. Negara kita subur, beras kita surplus, tapi kenapa masih ada rakyat kelaparan?

@narafakta

Karena jawabannya adalah, kelaparan tidak selalu tentang ketiadaan makanan. Kelaparan di Indonesia akan terus terjadi jika negara tidak mampu mendistribusikan pangan secara merata, haga pangan tinggi, hilangnya akses terhadap sumber kehidupan dan ketidak mampuan ekonomi masyarakat untuk membeli makanan.

Kelaparan yang terjadi di Indonesia Hari ini bukan tentang ketersediaan pangan tapi tentang akses terhadap pangan tersebut. Jika pemerintah hanya membicarakan lumbung pangan tanpa memperhatikan akses dan alasan ketidak mampuan masyarakat untuk membeli beras, maka kelaparan akan tetap terjadi.

Hari ini pemerintahan harus berhenti klaim produksi pangan yang meningkat jika masyarakat saja masih melarat. Karena ukuran keberhasilan pangan bukan hanya tentang jumlah beras yang dihasilkan, tetapi apakah setiap keluarga mampu makan layak setiap hari.

Pada akhirnya, kalimat bahwa “tidak ada yang lebih penting dari perut lapar” harus diterjemahkan lebih jauh, tugas negara bukan hanya memastikan ada makanan, tetapi memastikan tidak ada rakyat yang kehilangan kemampuan untuk mendapatkan makanan.

Sebab negara yang mampu menghasilkan jutaan ton beras tetapi masih memiliki rakyat yang lapar bukan sedang mengalami krisis pangan, melainkan sedang menghadapi krisis keadilan pangan.

Penulis : Indah Allawiyah