Beranda / Pemuda / Dorong Peran Pemuda dalam Pengelolaan Sampah di Desa Batu Ampar, PT EKL dan HIPEBAR Gelar Talkshow Edukatif

Dorong Peran Pemuda dalam Pengelolaan Sampah di Desa Batu Ampar, PT EKL dan HIPEBAR Gelar Talkshow Edukatif

dorong peran pemuda dalam pengelolaan sampah di desa batu ampar talkshow pt ekl hipebar

narafaktaPemuda di Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya didorong mengambil peran aktif dalam pengelolaan sampah pesisir melalui kegiatan talkshow edukatif yang digelar PT Ekosistem Khatulistiwa Lestari (PT EKL) bersama Himpunan Pemuda Batu Ampar (HIPEBAR), Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan bertajuk Sokola Alam #3 – Talkshow Edukatif Peduli Sampah ini berlangsung di Pelabuhan Desa Batu Ampar dan diikuti sekitar 40 pemuda dari berbagai dusun. Program ini merupakan bagian dari Program Penyadartahuan Konservasi dan Lingkungan PT EKL yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Talkshow tersebut mengangkat tema “Kepedulian Sampah untuk Perlindungan Ekosistem Perairan dan Ketahanan Ekonomi Pesisir Kubu Raya.”

Dampak Sampah Laut dan Ancaman Mikroplastik, Dosen Untan Paparkan Risiko Pencemaran

Dosen Ilmu Kelautan FMIPA Universitas Tanjungpura, Shifa Helena, menjelaskan dampak serius pencemaran sampah laut terhadap ekosistem perairan dan kesehatan manusia.Ia menegaskan bahwa sampah plastik yang masuk ke laut tidak hanya merusak habitat biota laut, tetapi juga mempengaruhi sektor perikanan.

“Sampah plastik di laut dapat berubah menjadi mikroplastik. Partikel ini berpotensi masuk ke rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia,” jelasnya. Menurut Shifa, pengelolaan sampah yang baik di wilayah pesisir menjadi langkah penting untuk mencegah pencemaran laut yang lebih luas.

Penggiat lingkungan sekaligus pendiri Bank Sampah Millenial Pontianak, Taufik Sirajuddin, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat menjadi solusi yang efektif.

Ia mendorong masyarakat menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) serta mengembangkan bank sampah sebagai sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.Taufik juga menyebut Pemerintah Kabupaten Kubu Raya saat ini mendorong pembentukan bank sampah di berbagai wilayah.

“Pemuda dan pemerintah desa dapat berkolaborasi untuk menginisiasi bank sampah di Batu Ampar. Selain membantu mengurangi sampah, pengelolaan ini juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai wilayah kepulauan seperti Batu Ampar perlu mengembangkan sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis komunitas.

Pemuda Batu Ampar Didorong Jadi Penggerak Lingkungan

Ketua HIPEBAR, Kiki, berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya gerakan kecil dari kalangan pemuda untuk mengurangi sampah di lingkungan sekitar.

Menurutnya, pemuda memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan di tingkat komunitas.“Kami berharap pemuda Batu Ampar dapat menjadi motor penggerak pengelolaan sampah sehingga lingkungan pesisir tetap terjaga,” katanya.

Sementara itu, Relissiana, Asisten Manager Program PT EKL, menyampaikan bahwa program Sokola Alam menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kesadaran konservasi lingkungan.Ia mengatakan perusahaan ingin membuka ruang belajar bersama antara masyarakat, pemuda, akademisi, dan pemerintah mengenai pengelolaan sampah pesisir.

Kepala Desa Apresiasi Kolaborasi Edukasi Lingkungan

Kepala Desa Batu Ampar, Herry Prawiranto, mengapresiasi kolaborasi antara perusahaan dan pemuda desa dalam menyelenggarakan kegiatan edukasi lingkungan.Ia berharap kegiatan seperti ini dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

“Pengelolaan sampah tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga memiliki potensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, anggota HIPEBAR Malik menanyakan sistem pengelolaan sampah yang mampu berjalan secara berkelanjutan.Ia menyampaikan bahwa sebelumnya pemuda Batu Ampar pernah mengolah sampah anorganik menjadi produk kerajinan. Namun kegiatan tersebut terhenti karena keterbatasan akses pasar.

Menanggapi hal tersebut, Taufik menyarankan agar pengelolaan sampah dimulai dengan menentukan jenis sampah bernilai ekonomi tinggi, seperti botol plastik dan minyak jelantah.

Selain itu, kelompok pengelola perlu menjalin kemitraan dengan pihak yang dapat membeli atau menampung sampah yang telah dikumpulkan.

“Sebelum memulai program, kelompok juga perlu menghitung model bisnisnya agar pengelolaan sampah bisa berkelanjutan,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, para pemuda Batu Ampar diharapkan dapat membangun komitmen untuk mengurangi sampah, melakukan pemilahan sampah rumah tangga, serta mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.

PT EKL berharap kolaborasi antara masyarakat, pemuda, akademisi, dan pemerintah dapat menjaga kelestarian ekosistem pesisir sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat setempat.

 

Penulis : Eky

Editor : Tim Redaksi