Narafakta-Peristiwa keracunan massal diduga terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Sedikitnya 340 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam program tersebut.
Para korban diketahui mengalami keluhan seperti mual, muntah, pusing, hingga diare. Jumlah korban yang besar menyebabkan sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah terdampak kewalahan menangani pasien yang datang secara bersamaan. Sebagian korban masih menjalani perawatan dan observasi medis hingga saat ini.
Peristiwa ini menuai kritik keras dari kalangan mahasiswa. Koordinator Wilayah BEM SEKA Kalbar, Meksi Kerol, menilai kejadian tersebut sebagai bukti lemahnya pengawasan negara dalam menjalankan program yang menyasar masyarakat luas.
“Ini bukan sekadar insiden teknis. Ini petaka bangsa dalam bungkus program. Program negara seharusnya menjamin keselamatan rakyat, bukan justru melahirkan korban massal,” tegas Meksi Kerol.
Ia menilai, program MBG yang membawa nama besar negara tidak boleh dijalankan secara serampangan. Menurutnya, aspek keamanan pangan, kualitas bahan, proses produksi, hingga distribusi seharusnya diawasi secara ketat dan berlapis.
Meksi juga mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan, termasuk membuka ke publik siapa pihak penyedia makanan, bagaimana standar operasional dijalankan, serta memastikan adanya sanksi tegas jika ditemukan kelalaian.
Sementara itu, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti keracunan. Sampel makanan diduga telah diamankan untuk keperluan uji laboratorium. Program MBG di lokasi terdampak dilaporkan sementara dihentikan guna mencegah kejadian serupa terulang.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti keracunan masih dalam proses pendalaman, dan masyarakat diimbau tetap tenang serta mengikuti arahan petugas kesehatan sambil menunggu hasil resmi dari pihak berwenang.






