Kesenjangan kemerdekaan di tanah airnya sendiri

0
Refleksi Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81 tentang kesenjangan dan ketidakadilan yang masih dirasakan rakyat

81 tahun Indonesia merdeka. Namun, apakah kemerdekaan sudah benar-benar dirasakan seluruh rakyat? Sebuah refleksi tentang kesenjangan, keadilan, dan makna kemerdekaan di tanah air sendiri.

“Refleksi Hari Yang Katanya Merdeka”

Kemerdekaan hanyalah milik kalian (kaum elite) bukan milik rakyat. Kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti merdeka. Dan apabila kalian tidak memperbaikinya, maka sampai kapanpun bangsa ini tidak akan pernah merdeka.

Tan Malaka

Negara Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 telah berumur 81 tahun sekarang ini. Tiap tahunnya, moment peringatan kemerdekaan RI selalu dirayakan dengan “senang-senang” saja. Perayaan hari kemerdekaan hanya bersifat seremonial yang dilakukan mulai dengan upacara bendera, lomba, dan kegiatan lainnya.

Di bulan Agustus ini, di bulan kemerdekaan kita sedang dihidangkan beberapa sajian yang kurang mengenakkan mulai dengan harga BBM yang naik, antrian panjang SPBU, dan debu yang bertebaran dijalan karena adanya pembakaran hutan liar, belum lagi dengan berita-berita seperti korupsi, hukum yang tidak adil, tuntutan-tuntutan yang belum terselesaikan, serta dengan pidato-pidato nya pak presiden yang sedang banyak di perbincangkan. Sudah terlalu lama rakyat kecil menjadi penonton di atas tanah airnya sendiri, merayakan hari kemerdekaan dengan perut lapar dan harapan yang terus di tunda.

 

Saat ini kita sedang di paksa sehat, di negeri yang sakit. Jadi, kemerdekaan seperti apa ini?

 

Merdeka hari ini seperti kata yang dikurung dalam seremoni, iya indah di ucapkan, tapi hambar di rasakan. Kita bangga menyebut bangsa ini bangsa yang merdeka, namun suara rakyat sering dibungkam, petani, nelayan, buruh, masyarakat, hingga mahasiswa masih terus berjuang melawan ketidakadilan.

Hari ini disebut hari merdeka, tapi benarkah kita sudah merdeka?

Kemerdekaan hari ini bukan hanya bebas dari penjajahan, tapi juga bebas dari kebodohan dan manipulasi. Dan sayangnya kita belum sepenuhnya merdeka, dalam situasi seperti ini rakyat seperti menanggung beban yang menyedihkan, rakyat tidak bisa bersuara dengan lantang. Kritik dianggap ancaman, keberatan dituduh pembangkang, dan hak suara hampir di hilangkan. Padahal apalah artinya sebuah negara jika rakyatnya hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan.

Sulit rasanya menerima bahwa kata “merdeka” yang seharusnya menaungi hidup Bangsa Indonesia, seluruhnya, tanpa sisa, dan kini berlaku hanya untuk mereka yang punya kuasa. Aku Melakukan ini bukan karena tidak mencintai negeriku. Justru karena aku sangat cinta, termasuk pelaku didalamnya (Rakyatnya) yang kadang terasingkan.

 

Kita telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Pramoedya Ananta Toer- (Bumi Manusia).

 

Terakhir dari saya, saya ingin mengingat kembali harapan mas laut;

Aku tak tahu Indonesia macam apa yang kalian alami sekarang, aku harap jauh lebih baik dibanding di masa hidupku dan aku harap tidak ada lagi penculikan dan pembunuhan terhadap mereka yang kritis.

Leila S. chudori- (Laut Bercerita).

 

Selamat memperingati hari kemerdekaan untuk Indonesia ku.

 

Penulis : Fahrul 

Editor : Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *