APUDSI Kalbar Dorong Regenerasi Pelaku Usaha Desa, Pelantikan dan Rakerwil Jadi Momentum Konsolidasi

0
Hendri Gunawan Ketua APUDSI Kalimantan Barat

Narafakta.id-Pontianak-Asosiasi Pelaku Usaha Desa Indonesia (APUDSI) Kalimantan Barat (Kalbar) mendorong penguatan regenerasi dan kapasitas pelaku usaha desa melalui agenda pelantikan kepengurusan dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).

 

Agenda tersebut diproyeksikan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan program strategis untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, pengembangan usaha, serta ekosistem ekonomi berbasis desa di Kalimantan Barat.

 

Ketua APUDSI Kalbar, Hendri Gunawan, mengatakan pelantikan dan Rakerwil tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial organisasi. Menurutnya, agenda tersebut menjadi bagian dari proses membangun fondasi organisasi sekaligus mempersiapkan kader pelaku usaha desa yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi.

 

“Pelantikan ini bukan sekadar pengukuhan kepengurusan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun fondasi organisasi dan menyiapkan kader-kader pelaku usaha desa yang mampu berkembang secara mandiri serta memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat,” ujar Hendri.

 

Menurut Hendri, perkembangan ekonomi desa membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki keberanian untuk menjalankan usaha, tetapi juga mempunyai kemampuan manajerial, memahami dinamika pasar, memanfaatkan teknologi, dan mampu membaca potensi ekonomi di wilayah masing-masing.

 

Karena itu, kaderisasi pelaku usaha desa menjadi salah satu aspek yang dinilai penting dalam pengembangan APUDSI Kalbar.

 

“Pelaku usaha desa harus kita dorong menjadi subjek pembangunan ekonomi. Mereka perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Ini yang ingin kita bangun melalui APUDSI,” katanya.

 

Rakerwil APUDSI Kalbar Bahas Pengembangan Pelaku Usaha Desa

 

Ketua Harian Meksi Kerol mengatakan Rakerwil APUDSI Kalbar akan menjadi ruang konsolidasi untuk menyusun arah program kerja organisasi secara lebih terukur.

 

Menurutnya, pengembangan pelaku usaha desa perlu diawali dengan pemetaan terhadap persoalan dan potensi ekonomi yang terdapat di masing-masing daerah.

 

“Rakerwil ini kita harapkan menjadi ruang akademis dan strategis untuk memetakan kebutuhan pelaku usaha desa. Kita tidak ingin program yang dibuat hanya bersifat normatif, tetapi harus berangkat dari persoalan nyata dan potensi yang ada di lapangan,” ujar Meksi.

 

Ia menjelaskan bahwa pengembangan pelaku usaha desa membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan. Hal tersebut mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan usaha, penguatan jaringan pemasaran, pemanfaatan teknologi digital, hingga pembukaan akses kolaborasi dengan berbagai pihak.

 

“Kalau kita bicara tentang kemajuan pelaku usaha desa, maka yang harus dibangun bukan hanya usahanya, tetapi juga ekosistemnya. Ada aspek SDM, kelembagaan, akses pasar, teknologi, pembiayaan, dan jejaring yang semuanya harus berjalan secara bersamaan,” jelasnya.

 

Meksi menambahkan, APUDSI Kalbar ingin mendorong munculnya kader-kader baru dari kalangan pelaku usaha desa yang memiliki perspektif pembangunan serta mampu menjadi penggerak ekonomi di wilayah masing-masing.

 

APUDSI Kalbar Dorong Kaderisasi Berbasis Pengetahuan

 

Direktur Eksekutif APUDSI Kalbar, Andre Sarkasi, menegaskan bahwa penguatan organisasi perlu berjalan beriringan dengan pembangunan kapasitas sumber daya manusia.

 

Menurut Andre, tantangan pelaku usaha desa semakin kompleks sehingga dibutuhkan kader yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, manajerial, dan mampu membaca perkembangan ekonomi.

 

“Pengkaderan bagi kami bukan sekadar mempersiapkan regenerasi kepengurusan. Lebih jauh, kader harus dipersiapkan untuk memahami persoalan ekonomi desa, mampu mengidentifikasi potensi usaha, serta memiliki kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Andre.

 

Ia menilai APUDSI Kalbar perlu dikembangkan sebagai ruang pembelajaran bagi pelaku usaha desa. Kader organisasi diharapkan memperoleh pengalaman organisatoris sekaligus pengetahuan yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha.

 

“APUDSI harus menjadi ruang belajar. Kita ingin membangun budaya organisasi yang berbasis pengetahuan, data, pengalaman lapangan, dan kolaborasi. Pelaku usaha desa tidak cukup hanya memiliki produk, tetapi juga harus memahami bagaimana mengembangkan, memasarkan, dan menjaga keberlanjutan usahanya,” katanya.

 

Andre juga menekankan pentingnya regenerasi pelaku usaha desa dari kalangan generasi muda. Menurutnya, generasi muda memiliki potensi besar untuk menghadirkan inovasi, terutama melalui pemanfaatan teknologi digital dan pengembangan model bisnis yang sesuai dengan perubahan pasar.

 

“Generasi muda desa harus diberikan ruang untuk tumbuh. Mereka bukan hanya objek dari pembangunan desa, tetapi harus menjadi bagian dari aktor yang merancang dan menggerakkan ekonomi desa,” ujarnya.

 

APUDSI Kalbar Ingin Pelaku Usaha Desa Naik Kelas

 

Hendri menegaskan APUDSI Kalbar ingin menempatkan pelaku usaha desa sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi daerah.

 

Menurutnya, Kalimantan Barat memiliki beragam potensi ekonomi desa yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi bernilai tambah, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, ekonomi kreatif, pariwisata, hingga berbagai produk berbasis sumber daya lokal.

 

Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang lebih profesional agar mampu berkembang dan memiliki daya saing.

 

“Kita ingin pelaku usaha desa naik kelas. Potensi lokal harus mampu diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing. Karena itu, penguatan kapasitas menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar,” kata Hendri.

 

Andre menambahkan bahwa keberhasilan program APUDSI Kalbar ke depan perlu diukur melalui dampak nyata terhadap perkembangan pelaku usaha desa.

 

Ia berharap Rakerwil tidak berhenti pada penyusunan dokumen program kerja, tetapi menghasilkan agenda yang konkret, terukur, dan memiliki indikator keberhasilan.

 

“Jangan sampai Rakerwil hanya menghasilkan dokumen program kerja. Yang lebih penting adalah bagaimana program itu dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha desa. Ukurannya harus jelas: apakah kapasitas meningkat, apakah akses pasar bertambah, apakah jejaring semakin kuat, dan apakah usaha pelaku ekonomi desa berkembang,” pungkas Andre.

 

Pelantikan dan Rakerwil APUDSI Kalbar diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus membangun jaringan pelaku usaha desa yang lebih terarah.

 

Melalui penguatan kaderisasi, peningkatan kapasitas, pengembangan usaha, dan kolaborasi lintas sektor, APUDSI Kalbar mendorong terbentuknya ekosistem pelaku usaha desa yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.

 

Penulis : Putra

Editor : Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *