DPP Mangkok Merah Tolak Pencabutan Perda Nomor 1 Tahun 2022
Pontianak — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ormas Mangkok Merah menyatakan penolakan terhadap keputusan Presiden Prabowo Subianto dan kebijakan Gubernur Kalimantan Barat terkait pencabutan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2022.
Ketua DPP Mangkok Merah, Iyen Bagago, menegaskan bahwa pihaknya tetap mempertahankan Perda tersebut karena dinilai berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat peladang dan tradisi berladang yang telah dilakukan secara turun-temurun.
“Kami DPP Ormas Mangkok Merah menolak keputusan Presiden Prabowo dan menolak keputusan Gubernur Kalimantan Barat terkait pencabutan Perda Nomor 1 Tahun 2022,” tegas Iyen Bagago.
Menurut Iyen, tradisi berladang dengan cara pembakaran lahan secara terbatas telah dilakukan oleh nenek moyang masyarakat jauh sebelum Indonesia merdeka.
Tradisi itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan mempertahankan kehidupan masyarakat.
“Sejak Indonesia belum merdeka, nenek moyang kami sudah berladang dengan cara dibakar, yang luasnya tidak lebih dari dua hektare, demi mencari beras untuk makan agar bisa bertahan hidup,” ujarnya.
Ia menilai, keberadaan Perda Nomor 1 Tahun 2022 tetap penting bagi masyarakat yang menjalankan tradisi berladang. Karena itu, apa pun alasan yang menjadi dasar pencabutan, DPP Mangkok Merah menyatakan akan tetap mempertahankan Perda tersebut.
“Jadi, apa pun alasannya, Perda Nomor 1 Tahun 2022 tetap kami pertahankan,” kata Iyen.
Sikap tersebut disampaikan di tengah adanya seruan konsolidasi bersama peladang yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Agustus 2026 di Betang Sutoyo, Jalan Sultan Syahrir, Pontianak. masyarakat peladang diajak menyatukan langkah dalam memperjuangkan kepentingan mereka, menjaga keberlangsungan tradisi berladang, serta menyampaikan aspirasi terkait kebijakan pemerintah mengenai aktivitas membuka lahan.
DPP Mangkok Merah menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan hanya menyangkut aturan, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan dan keberlangsungan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada tradisi berladang.
Penulis : Sandi
Editor : Tim Redaksi
