Beranda / Opini Reflektif / Jagal dan Moral para “pemenang”

Jagal dan Moral para “pemenang”

Jagal dan moral para pemenang dalam film The Act of Killing

narafakta-Film The Act of Killing atau Jagal memberikan gambaran yang cukup ganjil tentang sejarah kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia. Film ini tidak menampilkan korban sebagai pusat cerita, justru yang berbicara adalah para pelaku. Mereka menceritakan kembali bagaimana pembunuhan dilakukan, seolah sedang mengingat masa muda yang penuh petualangan.

Fokus utamanya adalah Anwar Congo, seorang algojo yang mengaku telah membunuh banyak orang yang dituduh terlibat PKI setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.Dengan cukup santai ia memperagakan kembali cara membunuh yang menurutnya paling efektif. Menggunakan kawat ala mafia barat untuk mencekik leher korban agar tidak terlalu banyak darah. Ia bahkan memperagakannya di depan sebuah gedung bioskop, tempat ia dulu sering mengeksekusi orang.

Dalam adegan lain ia juga menjelaskan bagaimana korban dijepit lehernya menggunakan meja, lalu ia dan rekannya duduk di atasnya hingga korban kehabisan napas. Anehnya, semua itu ia ceritakan sambil tersenyum, bahkan sesekali bersenda gurau.

Namun film ini juga menghadirkan satu adegan yang terasa sangat kontras.Suatu hari cucunya tanpa sengaja menyakiti seekor itik peliharaan mereka hingga pincang. Melihat itu, Anwar Congo meminta cucunya untuk meminta maaf.

“Minta maaf dulu sama itiknya. Elus dia, bilang maaf ya itik, aku tidak sengaja.”

Sang cucu pun menurut.

Adegan itu terasa janggal. Seorang pria yang pernah menghabisi ratusan nyawa manusia dengan cara sadis, justru mengajarkan cucunya untuk meminta maaf kepada seekor itik. Kontradiksi seperti itu muncul berkali-kali sepanjang film.

Selain itu film ini juga memperlihatkan sisi lain yang tidak kalah mencolok, yakni gaya hidup para pimpinan Pemuda Pancasila yang terlibat dalam penumpasan tersebut.

Dalam beberapa adegan, kamera menyorot barang-barang mewah yang mereka miliki. Koleksi barang mahal, aksesori eksklusif, hingga benda-benda limited edition menjadi bagian dari percakapan mereka. Seolah kekerasan masa lalu itu tidak hanya memberi kuasa, tetapi juga membuka jalan menuju gaya hidup glamor.

Baca Juga : Menguji relevansi OKP ditengah ancaman krisis

Salah satu yang cukup menjadi sorotan adalah ketua umum pusat organisasi tersebut, Yapto Soerjosoemarno. Dalam sebuah adegan ia terlihat bermain golf dengan santai. Ketika ditanya mengenai cara memberantas PKI pada masa itu, ia menjawab singkat.

“Ya dulu bunuh-bunuhan.”

Kalimat itu diucapkan dengan ringan, seolah sedang menceritakan sesuatu yang biasa.Di kesempatan lain ia juga mengatakan bahwa ancaman neo-komunisme harus tetap diberantas, dan menurutnya hal itu tidak cukup hanya dilakukan oleh aparat seperti polisi dan TNI.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, peristiwa masa lalu itu bukan sekadar sejarah. Ia masih dianggap sebagai bagian dari perjuangan yang harus terus dijaga.

Ada pula tokoh lain yang cukup menarik, yakni Ady Zulkadry, sahabat Anwar Congo. Ia mungkin satu-satunya yang terlihat benar-benar memahami konsekuensi dari film ini.

Dalam satu percakapan ia mengatakan bahwa jika publik benar-benar melihat cerita mereka, orang akan sadar bahwa apa yang mereka lakukan mungkin terlihat lebih kejam daripada apa yang selama ini dituduhkan kepada PKI.

Ia tidak menyangkal kekerasan itu. Bahkan ia mengaku pernah menusuk calon mertuanya sendiri yang merupakan etnis Tionghoa.Namun yang lebih menarik adalah cara ia memandang sejarah.

Menurutnya, ia tidak terlalu khawatir jika suatu hari ada tuntutan pengadilan internasional atas apa yang ia lakukan. Ia mengatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh pihak yang menang.

Ia bahkan memberi contoh George W. Bush yang pernah menyatakan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal sebagai alasan perang. Kenyataannya, senjata itu tidak pernah ditemukan. Tetapi Bush tidak pernah diadili. Logikanya sederhana, pemenang menentukan cerita dan pemenang menulis sejarahnya sendiri.

Di awal film, Anwar Congo terlihat sangat bangga dengan masa lalunya. Ia bercerita seolah semua itu adalah bagian dari jasa kepada negara. Namun ada satu momen ketika ia diminta memerankan korban dalam rekonstruksi film. Untuk pertama kalinya ia mencoba berada di posisi orang yang dicekik.

Sejak saat itu ekspresinya mulai berubah. Di akhir film ia terlihat gelisah, dengan suara yang tercekat ia bertanya.

“Apa saya salah ya? Saya takut dengan apa yang telah saya lakukan…”

Sulit mengatakan apakah itu benar-benar penyesalan, atau hanya rasa takut terhadap dosa di usia tua. Yang jelas, film ini tidak benar-benar memberi jawaban.

Ia hanya memperlihatkan sesuatu yang mungkin lebih mengganggu, bahwa dalam banyak peristiwa sejarah, kebenaran sering kali bukan ditentukan oleh siapa yang benar, tetapi oleh siapa yang menang. Dan ketika pemenang menulis sejarahnya sendiri, mereka tidak hanya menentukan cerita yang diingat orang.Mereka juga menentukan cerita mana yang dilupakan.

Penulis : Iwan

Editor : Tim Redaksi