Narafakta-Kasus bunuh diri yang melibatkan anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur adalah tamparan keras bagi nurani kita sebagai bangsa. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi keluarga yang patut disesali, melainkan alarm darurat yang seharusnya membangunkan negara dari kelalaiannya. Di balik satu nyawa kecil yang pergi, tersimpan kegagalan sistemik dalam menghadirkan rasa aman, empati, dan perlindungan yang semestinya menjadi hak dasar setiap anak Indonesia.
Seorang anak usia sekolah dasar seharusnya berada pada fase bermain, belajar, bertanya tanpa takut, dan tumbuh dalam lingkungan yang menenangkan. Dunia anak adalah dunia warna, tawa, dan rasa ingin tahu bukan dunia tekanan, kecemasan, dan beban psikologis yang terlalu berat untuk dipikul. Ketika seorang anak memilih mengakhiri hidupnya, itu bukan keputusan yang lahir dalam ruang hampa, melainkan akumulasi dari rasa sakit yang tidak pernah benar-benar didengar.
Baca Juga : Keracunan Massal MBG di Ketapang, 340 Orang Jadi Korban, Meksi Kerol: “Petaka Bangsa dalam Bungkus Program”
Muhammad Salrus menanggapi peristiwa ini sebagai bukti nyata kurangnya kehadiran negara dalam mendahului pendidikan yang menyeluruh, manusiawi, dan berorientasi pada keselamatan jiwa. Pendidikan hari ini terlalu sering dipersempit pada aspek administratif: gedung sekolah, seragam, kurikulum, dan angka-angka statistik keberhasilan. Padahal esensi pendidikan jauh melampaui itu ia adalah tentang membentuk manusia seutuhnya, termasuk kesehatan mental, ketahanan emosional, dan rasa aman dalam lingkungan belajar.
Sekolah seharusnya menjadi ruang perlindungan kedua setelah rumah. Namun realitas di lapangan sering menunjukkan sebaliknya: anak-anak dipaksa beradaptasi dengan sistem yang kaku, minim empati, dan miskin pendampingan psikologis. Guru dibebani target akademik, sementara kepekaan terhadap kondisi emosional murid kerap terpinggirkan. Akibatnya, jeritan sunyi anak-anak yang sedang tertekan tidak pernah benar-benar terdengar hingga terlambat.
Di tengah gencarnya program MBG (Makan Bergizi Gratis), pemerintah tampak lebih bersemangat pada kebijakan yang bersifat fisik dan populis. Gizi memang penting, bahkan sangat penting, namun gizi bukan satu-satunya kebutuhan anak. Anak yang kenyang belum tentu merasa aman, anak yang sehat secara fisik belum tentu sehat jiwanya. Tanpa pendidikan yang berkeadilan, empatik, dan responsif terhadap persoalan psikologis, program sebesar apa pun hanya akan menjadi angka keberhasilan semu.
Negara seolah lupa bahwa keselamatan jiwa adalah fondasi dari seluruh kebijakan pendidikan. Apa artinya sekolah gratis, makanan bergizi, dan bangunan megah jika anak-anak masih merasa sendirian dalam ketakutannya? Apa artinya pembangunan sumber daya manusia jika luka batin generasi muda dibiarkan tanpa penanganan?
Kasus ini seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar berita yang berlalu bersama waktu. Pemerintah perlu mendahului pendidikan daripada kebijakan seremonial. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan lewat slogan; ia harus dihidupkan melalui sistem sekolah yang ramah anak, ruang konseling yang nyata, serta tenaga pendidik yang dibekali kemampuan mendeteksi tekanan psikologis sejak dini. Negara harus hadir sebelum tragedi terjadi, bukan sibuk berbelasungkawa setelah nyawa melayang.
Lebih dari itu, masyarakat juga perlu bercermin. Lingkungan sekitar keluarga, sekolah, dan komunitas harus belajar untuk lebih peka, lebih mendengar, dan tidak menormalisasi kekerasan verbal, perundungan, maupun tekanan berlebihan terhadap anak. Anak-anak tidak selalu mampu mengungkapkan rasa sakitnya dengan kata-kata sering kali mereka berbicara lewat diam, perubahan sikap, atau tangis yang dianggap sepele.
Jika negara gagal membaca jeritan sunyi anak-anaknya, maka kita sedang membangun masa depan di atas luka yang dibiarkan menganga. Dan luka yang diabaikan hari ini, akan menjadi krisis kemanusiaan di masa depan.
Tragedi ini bukan untuk diperdebatkan, bukan pula untuk dijadikan alat politik. Ia adalah panggilan moral untuk disadari, direnungi, dan diperbaiki bersama. Karena satu anak yang hilang bukan sekadar angka statistik, melainkan semesta harapan yang runtuh. Dan jika kita masih memilih diam, maka kita turut bersalah sebelum anak-anak lain menyusul dalam sunyi.
oleh: muhammad salrus






