narafakta-Dusun Madani, Desa Mekarsari, Minggu (1/2/2026) — Tawa riang anak-anak memecah suasana siang itu di halaman Pesantren Mubayinul Ulum. Di bawah langit cerah Dusun Madani, para santri dan santriwati duduk berbaris rapi sambil menggenggam biskuit di tangan, menunggu aba-aba lomba dimulai.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darul Ulum (STITDAR) yang tergabung dalam Program Aksi Bakti Dakwah Inovatif Masyarakat Umat (ABDIMU) 2026 Kelompok 1 Desa Mekarsari sengaja menghadirkan lomba makan biskuit sebagai kegiatan rekreatif edukatif.
Melalui cara sederhana ini, mereka ingin mendekatkan diri dengan santri lewat keceriaan, bukan hanya ceramah.
Saat hitungan dimulai, anak-anak langsung tertawa. Sebagian berusaha menahan biskuit agar tidak jatuh, sementara yang lain fokus penuh menyelesaikan tantangan. Di sela-sela lomba, mahasiswa ikut menyemangati, memandu aturan, dan sesekali ikut tertawa melihat tingkah polos para santri.
Ketua Kelompok 1 ABDIMU mengatakan kegiatan ini menjadi cara efektif menanamkan nilai karakter. “Kami ingin anak-anak belajar sportivitas, disiplin, dan kerja sama, tapi lewat suasana yang menyenangkan. Dakwah juga bisa hadir lewat kebahagiaan,” ujarnya.
Bagi para santri, momen ini terasa berbeda dari aktivitas belajar biasanya. Salah seorang santri, Ahmad (12), mengaku senang mengikuti lomba tersebut.
“Seru sekali, Kak. Saya jadi berani ikut lomba, walaupun tadi kalah. Yang penting bisa ketawa sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum.
Pihak pesantren pun menyambut hangat kegiatan tersebut. Pengurus menilai kehadiran mahasiswa membawa energi positif yang membuat suasana pesantren terasa lebih hidup. Selain menghibur, aktivitas ini membantu anak-anak belajar berinteraksi, percaya diri, dan saling menghargai.
Program ABDIMU STITDAR sendiri menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Lewat kegiatan di Pesantren Mubayinul Ulum ini, mahasiswa belajar berdakwah secara aplikatif, sedangkan santri mendapatkan pengalaman belajar karakter yang menyenangkan dan membekas.
Di akhir kegiatan, halaman pesantren kembali tenang. Namun, senyum anak-anak yang masih tersisa menunjukkan satu hal sederhana: kadang, pembelajaran paling bermakna justru lahir dari tawa dan kebersamaan.






