MENYAPA WARISAN DI RUMAH PANYAI SUNGAI ANTU
Lenora Fidelia Tuah Mualangnez SISWI SMPK SANTO GABRIEL SEKADAU, Hadirkan Semangat “Rona Wastra Berbagi”
BELITANG HULU, SEKADAU —
Di tengah hamparan alam Kabupaten Sekadau, berdiri sebuah ruang yang menyimpan cerita tentang kehidupan, kebersamaan, dan warisan leluhur. Rumah Panyai Sungai Antu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi menjadi bagian dari ruang budaya masyarakat yang mempertemukan generasi, cerita, dan tradisi.
Di tempat inilah, semangat mengenalkan budaya kepada generasi muda kembali digaungkan melalui kegiatan “Rona Wastra Berbagi”, yang dihadirkan oleh Lenora Fidelia Tuah Mualangnez, Putri Anak Kalimantan Barat 2, bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) .Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Serta SMPK SANTO GABRIEL Kabupaten Sekadau.
Mengusung semangat mengenal, mencintai, dan melestarikan wastra daerah, kegiatan tersebut mengajak anak-anak di Rumah Panyai Sungai Antu untuk lebih dekat dengan kekayaan budaya Kabupaten Sekadau, khususnya Tenun Kebat Batu Petara.
Bagi Lenora, memperkenalkan wastra kepada anak-anak bukan hanya tentang memperkenalkan kain tradisional. Lebih dari itu, setiap helai tenun membawa cerita, nilai, identitas, dan jejak kehidupan masyarakat yang patut dikenal oleh generasi penerus.
“Wastra bukan sekadar kain. Di dalamnya ada cerita, ada nilai, ada identitas dan warisan leluhur. Karena itu, generasi muda harus mengenal dan bangga terhadap budaya yang kita miliki.”
Melalui Rona Wastra Berbagi, Lenora mengajak anak-anak untuk memahami bahwa menjaga budaya tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mengenal, mempelajari, menggunakan, hingga memperkenalkan wastra kepada orang lain merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan generasi muda.
Suasana Rumah Panyai Sungai Antu pun menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Di antara dinding kayu dan ruang kebersamaan rumah panjang, anak-anak tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana budaya diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Rumah Panyai, Ruang Hidupnya Budaya
Rumah Panyai Sungai Antu menjadi gambaran bagaimana rumah panjang memiliki nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Di dalamnya, berbagai generasi dapat bertemu, berinteraksi, dan menjaga hubungan sosial serta tradisi yang telah diwariskan.
“Di Rumah Panyai Sungai Antu, Lenora belajar bahwa budaya tidak hanya tersimpan dalam kain, motif, atau benda-benda tradisional. Budaya hidup melalui manusia, melalui kebersamaan, dan melalui generasi yang mau meneruskannya.”
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Lenora untuk membawa pesan advokasinya lebih dekat kepada anak-anak di daerah.
Dari Rumah Panyai Sungai Antu, Rona Wastra Berbagi membawa satu pesan sederhana namun bermakna:
“Warisan terjaga, budaya bermakna.”
Sebab, ketika anak-anak mengenal budayanya sejak dini, mereka tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga sedang menyiapkan masa depan bagi warisan budaya yang mereka miliki.
